'WILUJENG SUMPING'

Riung mungpulung Urang Sindangsari
Silih Asah Silih Asih Silih Asuh

Jumat, 11 November 2011

SEJARAH KAJENE atawa KUNINGAN

Taman Kota Kuningan


Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Sang Pandawa memiliki putra wanita bernama Sangkari. Tahun 617 Sangkari menikah dengan Demunawan, putra Danghyang Guru Sempakwaja, seorang resiguru di Galunggung. Sangiyang Sempakwaja adalah petera tertua Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disebutkan dalam tradisi lisan masyarakat Kuningan memiliki ajian Dangiang Kuning dan menganut agama Sanghiyang.
Meskipun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh. Hal itu terbukti dengan kekalahan yang diderita tim Sanjaya (Raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya atas permintaan Dangiyang Guru Sempakwaja, besan sang Pandawa dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri paling kuat.Sanjaya adalah cicit Sang Wretikandayun, melalui putranya Sang Mandiminyak yang menggantikannya sebagai raja galuh (703-710) dan cucunya Sang Sena yang menjadi raja berikutnya (710-717).
Di Pemerintah Galuh terjadi konflik kepentingan, sehingga Resi Guru Sempakwaja mengambil keputusan. Diantaranya menempatkan Sang Pandawa menjadi guru haji (Resiguru) di Layuwatang (sekarang tempatnya di Desa Rajadanu Kecamatan Japara). Sedangkan posisi pemerintah digantikan Demunawan dengan gelar Sanghiyangrang Kuku, tahun 723.
Masa pemerintahan Rahyangtang Kuku, diberitakan bahwa ibu kota Kerajaan Kuningan ialah Saunggalah. Lokasinya diperkirakan berada di sekitar Kampung Salia, sekarang termasuk Desa Ciherang Kecamatan Nusaherang. Seluruh wilayahnya meliputi 13 wilayah diantaranya Galunggung, Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasesa, Kahirupan, Sumanjajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pegergunung, Muladarma dan Batutihang.
Tahun 1163-1175, Pemerintah Saunggalah terungkap lagi setelah tidak ada catatan paska Demunawan. Saat itu tahta kerajaan dipegang oleh Rakean Dharmasiksa, anak dari Prabu Dharmakusumah (1157-1175) seorang raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Rakean Dharmasiksa memerintah Saunggalah menggantikan mertuanya, karena ia menikan dengan putri Saunggalah.
Namun Rakean Dharmasiksa tidak lama kemudian menggantikan ayahnya yang wafat tahun 1175 sebagai raja Sunda. Sedangkan pemerintah Saunggalah digantikan putranya yang bernama Ragasuci atau Rajaputra. Sebagai penguasa Saunggalah, Ragasuci dijuluki Rahyantang Saunggalah (1175-1298). Ia memeristri Dara Puspa, putri seorang raja Melayu.
Tahun 1298, Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya dengan gelar Prabu Ragasuci (1298-1304). Kedudukannya di Saunggalah digantikan putranya bernama Citraganda. Pada waktu kekuasaan Ragasuci, wilayah kekuasaannya bertambah meliputi Cipanglebakan, Geger Gadung, Geger Handiwung, dan Pasir Taritih di Muara Cipager Jampang.
Masa Keadipatian
Berdasarkan tradisi lisan, sekitar abad 15 Masehi di daerah Kuningan sekarang dikenal dua lokasi yang memiliki kegiatan pemerintahan yaitu Luragung dan Kajene. Pusat pemerintahan Kajene terletak sekarang di Desa Sidapurna Kecamatan Kuningan. saat itu, Luragung dan Kajene bukan lagi sebuah kerajaan tapi merupakan buyut Haden. Masa ini, dimulai dengan tampilnya tokoh Arya Kamuning, Ki Gedeng Luragung dan kemudian Sang Adipati Kuningan sebagai pemipun daerah Kajene, Luraugng dan kemudian Kuningan.
Mereka secara bertahap di bawah kekuasaan Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Djati (salah satu dari sembilan wali, juga penguasa Cirebon). Tokoh Adipati Kuningan ada beberapa versi.Versi pertama Sang Adipati Kuningan itu adalah putera Ki Gedeng Luragung (unsur lama).Tetapi kemudian dipungut anak oleh Sunan Gunung Djati (unsur baru).
Dia dititipkan oleh ayah angkatnya kepada Arya Kamuning untuk dibesarkan dan dididik.Kemudian menggantikan posisi yang mendidiknya. Versi kedua, Sang Adipati Kuningan adalah putera Ratu Selawati, keturunan Prabu Siliwangi (unsur lama), dari pernikahannya dengan Syekh Maulanan Arifin (unsur baru). Disini jelas terjadi kearifan sejarah.
Berdasarkan Buku Pangeran Wangsakerta yang ditulis abad ke 17, Sang Adipati Kuningan yang berkelanjutan penjelasanya adalah berita yang menyebutkan tokoh ini dikaitkan dengan Ratu Selawati. Bahwa agama Islam menyebar ke Kuningan berkat upaya Syek Maulana Akbar atau Syek Bayanullah. Dia adalah adik Syekh Datuk Kahpi yang bermukim dan membuka pesantren di kaki bukit Amparan Jati (sekarang Cirebon).
Syekh Maulana Akbar membukan pesantren pertama di Kuningan yaitu di Desa Sidapurna sekarang, ibu kota Kajene. Ia menikah dengan Nyi Wandansari, putri Surayana. Ada pun Surayana adalah putra Prabu Dewa niskala atau Prabu Ningrat Kancana, Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali (1475-1482) yang menggantikan posisi ayahnya Prabu niskala Wastu Kancana atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi.
Dari pernikahan dengan Nyi Wandansari berputra Maulana Arifin yang kemudian menikah dengan Ratu Selawati. Ratu Selawati bersama kakak dan adiknya yaitu Bratawijaya dan Jayakarsa adalah cucu Prabu Maharaja niskala Wastu Kancana atau Prabu Siliwangi.Bratawijaya kemudian memimpin di Kajene dengan gelar Arya Kamuning. Sedangkan Jayaraksa memimpin masyarakat Luragung dengan gelar Ki Gedeng Luragung.
Mereka bertiga, yakni Ratu Selawati, Arya Kamuning (Bratawijaya), Ki Gedeng Luragung (Jayaraksa) diislamkan oleh uwaknya yakni Pangeran Walangsungsang. Adapun Sang Adipati Kuningan yang sesungguhnya bernama Suranggajaya adalah anak dari Ki Gedeung Luragung (namun hal itu masih merupakan babad peteng atau masa kegelapan yang sampai saat ini tidak diketahui kebenarannya sesungguhnya anak siapa Sang Adipati Kuningan).
Atas prakarsa Sunan Gunung Djati dan istrinya yang berdarah Cina Ong Tin Nio yang sedang berkunjung ke Luragung, Suranggajaya diangkat anak oleh mereka. Tetapi pemeliharaan dan pendidikannya dititipkan pada Arya Kamuning. Sedangkan Arya Kamuning sendiri dikabarkan tidak memiliki keturunan. Akhirnya Suranggajaya diangkat jadi adipati oleh Susuhunan Djati (Sunan Gunung Djati) menggantikan bapak asuhnya.
Penobatan ini dilakukan pada tanggal 4 Syura (Muharam) Tahun 1498 Masehi. Penanggalan tesebut bertempatan dengan tanggal 1 September 1498 Masehi. Sejak tahun 1978, hari pelantikan Suranggajaya menjadi Adipati Kuningan itu ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan sampai sekarang. ***

Keraton Padjajaran di Kuningan?

Peta lokasi Keraton Padjadjaran KuninganPeta Lokasi Kerajaan Padjajaran Kuningan


Pembicaraan mengenai sejarah keberadaan Keraton Padjajaran yang selama ini ada di Bogor, membuat tokoh masyarakat Kuningan angkat bicara. Setelah mendalami dari berbagai aspek bukti sejarah, seorang penggali sejarah yang juga mantan Sekda Kuningan, HE Madrohim didampingi putranya, Adi Sri Chandra serta pengamat sejarah, Syarif Juanda, menyimpulkan, letak Keraton Padjajaran sesungguhnya berada di Kuningan.

Menurut msesepuh Kuningan sekaligus sebagai sesepuh Susuhunan luhur mulya, HE Madrochim melalui putranya, Adi Sri Chandra, keraton yang juga disebut sebagai Pararaton Panca Padjadjaran Ing Medang Kamuliaan Kuningan Salakadomas (Tempat Para Dewa / Kahyangan) itu sudah saatnya kembali digali oleh masyarakat Kuningan sendiri, bahkan harus diketahui oleh khalayak.
"Nama Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati adalah nama Keraton di Tatar Sunda pada zaman buhun yang sudah tidak asing lagi di masyarakat Jawa Barat," kata Adi Sri Chandra diamini adik Laksma. Syarif Husin, Syarif Juanda ke Kuningan News, (21 / 6).
Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati kata Adi, merupakan lima Keraton besar yang berjajar dari arah utara ke selatan yang terbagi oleh garis tengah kanal sungai Cilengkrang Kurucuk di kaki Gunung Ciremai sebelah Timur. "Wilayah inilah yang terletak di Kabupaten Kuningan Jawa Barat dan itu pula yang dimaksud dengan Padjadjaran," tegasnya.
Lebih lanjut Adi menampilkan, Keraton Padjadjaran adalah Keraton yang mengemban dan mengemudi Panca Pandawa Keraton Susuhunan Penguasa Jagat Pati. Inilah yang dikatakan Pakuwuan / Pakuan, tempat posisi Pusar Lingga Pemerintah sebagai tempat bersemayamnya Yang Agung Yang Dimuliakan, Sri Baginda Maha Raja Ismaya (Sang Hyang Bhatara Ismaya) Sri Badranaya Kartika Sakti Kerta Wibawa sakti mandraguna, atau dikenal dengan nama Aki Cirem.
"Tiap Keraton tersebut mengandung pengertian berbeda, Keraton Sri Suradipati adalah berarti sebagai Keraton Induk yang berkedudukan di Winduherang sebagai Pusat dayeuh Sundapura dengan Sri Baginda Maha Raja Ismaya sebagai Sang Maha Mentri, Pusat Pemerintahan Jagat Pati," tegasnya.
Menurutnya, Keraton Sri Bima berkedudukan di Lingga Jati (sekarang Objek Wisata Pemandian) yang mana sebelumnya berkedudukan di Winduherang. Keraton Sri Punta Pertama berkedudukan di Balong Dalem Jalaksana (sekarang Objek wisata Balong Dalem), kemudian pindah ke cipari (Sekarang Museum Purbakala). Selanjutnya, Keraton Sri Narayana pertama kali berkedudukan di Cijoho (Sekarang Leles belakang LP) yang kemudian lokasinya berpindah ke Manis Kidul (sekarang Objek Wisata Cibulan). Sementara, Keraton Sri Madura berkedudukan di Cigugur (sekarang Objek wisata Pemandian Cigugur).
"Keraton Padjadjaran itu beberapa kali mengalami perpindahan tempat, namun tidak berpindah ke lokasi lain (hanya perubahan nama) dengan tanpa merubah arah lokasi, atau tetap berjajar dari arah Utara ke Selatan, dibawah kaki Gunung Ciremai sebelah Timur. Hal itu terjadi pada masa Taruma Negara / Jagat Pati, yaitu zaman Kala Ruba berkisar tahun 400-500 sebelum masehi, "paparnya.
Selain itu tutur Adi, Keraton Sri Bima awalnya berkedudukan di Keraton Sri Suradipati (Winduherang), kemudian pada zaman Wisnu Warman / Raden Kandyawan mentransfer Keratonnya ke Medang Jati-Medang Sana atau sekarang wilayah Lingga Jati dan Lingga Sana.Tempat ini tetap bernama Keraton Bima. Sementara, Keraton Sri Sura Adipati berkedudukan di Winduherang yang dijadikan sebagai Keraton Induk / Pusat.
"Raden Kandyawan atau Pangeran Sura Liman Agung yang bergelar Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati merupakan putera Sri Purnawarman alias Pangeran Arya Adipati Ewangga yang bergelar Raja Resi Dewaraja atau Dewangga," terangnya.
Sebagai pelengkap kada Adi, berikut nama-nama Raja yang bertahta di tiapKeraton masing-masing. Keraton Sri Sura Adipati diantaranya, Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Jagatpati / Pangeran Arya Adipati Ewangga / Sura Liman Sakti / Raja Resi Dewa Raja, Sang Hyang Batara Wisnu / Raden Kandyawan / Pangeran Arya Adipati Sura Liman Agung / Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati Kusuma, Sang Rama Jaksa Pati Kusuma / Sang Pandawa / Rama Wijaya / Sri Baginda Maha Raja Candra Warman dan Raden Demunawan / Sri Maha Prabu Resi Guru Saweukarma.
Kemudian, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Bima, diantaranya yaitu Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman / Sang Hyang Batara Wisnu / Begawan Sat Mata / Sang Layuwatang, Pangeran Lingga Kusuma Yuda / Sri Baginda Raja Lingga Warman, Maha Prabu Tarusbawa (Tohaan) , Sri Maha Raja Haris Darma Yuda / Sanjaya dan Sri Maha Prabu Raden Darma Siksa / Prabu Guru Darma Siksa Para amarta Sang Maha Purusa (Titisan Batara Wisnu).
Adapun Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Punta satu saat berkedudukan di Jalaksana (Balong Dalem) diantaranya yaitu, Raden Mandi Minyak (Jala Antara), Raden Brata Senawa / Sena (Hantara) dan Raden Wijaya Kusuma / Kuno Sura. Kemudian, Raja-Raja yang Bertahta di Keraton Sri Punta ke dua saat berkedudukan di cipari diantaranya yaitu, Raden Wijaya Kusuma / Raden Purbasura, Raden Permana Dikusuma Ajar Padang Sukaresi Begawat sajala-jala dan Raden Surotoma / Ciung Wanara atau Arya Santana.
Ada pula, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Narayana pertama yang berlokasi di Cijoho (Leles belakang LP) diantaranya yaitu, Sang Pandawa / Sri Baginda Maha Raja Candra Warman / Rama Wijaya / Begawan Nara Pati wasu Brata. Keraton ini dijadikan sebagai pusat keraton Galuh Pakuan yang mana beliau bergelar Prabu Anom / H. Alit.
Kemudian, Keraton tersebut pindah ke Cibulan yang sekarang sebagai Objek Wisata Pemandian. Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Narayana Cibulan diantaranya yaitu, Sang Rama Wijaya / Dharma Kusuma / Sri Baginda Maha Raja Candra Warman, Sang Maha Prabu Wretikandayun / Raden Sri Sura Dharma, Sang Purba Wisesa / Sang Haliwungan dan Sri Baduga Jaya Ratu Haji, yang sekarang kita kenal dengan nama Prabu Siliwangi.
Terakhir, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Madura saat berkedudukan di Cigugur (Sekarang Objek Wisata Kolam Pemandian) diantaranya yaitu, Sri Maha Prabu Wretikandayun / Raden Sri Sura Dharma, Sri Maha Raja Haris Dharma Yhuda / Raden Sanjaya, Raden Tamperan Bramawijaya, Raden Kamarasa Arya Banga Sang Jaya Jago dan Raden Surajaya Wisesa / Prabu Guru Gantangan / Ratu Sang Hyang / Ki Gedeng Kuningan.


Biodata Kang Agil

Arsip Blog

Wadya Balad