'WILUJENG SUMPING'

Riung mungpulung Urang Sindangsari
Silih Asah Silih Asih Silih Asuh

Rabu, 09 November 2011

SITUS TAMAN PURBAKALA KAMPUNG CIPARI KABUPATEN KUNINGAN





















Indonesia memang menjadi wilayah yang sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan sejarah era jaman batu, sebuah bukti kedigdayaan dan kekayaan budaya bangsa. Nah, salah satu lokasi ‘gudang’ sejarah di mana Anda dapat menemukan aneka benda sangat berharga ini terletak di Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

Situs Museum Taman Purbakala Cipari ini membentang di daerah perbukitan dengan ketinggian 661 meter di atas permukaan laut tepatnya di kaki gunung Ciremai bagian timur dan bagian barat kota Kuningan. Situs purbakala ini berjarak sekitar empat kilometer dari ibukota Kuningan dan 35 kilometer dari kota Cirebon.
Area ini awalnya milik Bapak Wijaya dan beberapa warga. Pada 1971, Bapak Wijaya menemukan batuan yang setelah diteliti ternyata peti kubur batu, kapak batu, gelang batu, dan gerabah. Tahun 1972, penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak pun berlangsung. Setahun kemudian, Situs Museum Taman Purbakala Cipari berdiri yang pada 23 Februari 1978 diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Syarif Thayeb.

Dari analisa typolog stratigrafi hasil penelitian Teguh Asmar, MA, situs purbakala Cipari ini pernah dua kali digunakan sebagai tempat bermukim yakni pada akhir era Neolitikum dan awal jaman perunggu pada 1.000—500 SM.

Nah, apa saja yang akan Anda temukan di situs ini?
Sangat berlimpah. Situs purbakala seluas  6.364 meter persegi ini memuat artefak-artefak seperti peti kubur batu, gerabah, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu, dan manik-manik. Artefak-artefak ini pun diduga berasal dari masa perundagian (paleometalik atau perunggu-besi) yang masih melanjutkan tradisi megalitikum sekitar 1.000—500 SM.

Area ditemukannya artefak-artefak batu dan gerabah masih tertata baik. Tingkat kedalaman benda-benda terkubur ini masih orisinal. Peti kubur yang terbuat dari batu indesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula, mengarah ke timur laut barat daya dan menggambarkan konsep alam seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup.

Meski demikian, temuan-temuan ini tak mampu menjelaskan siapa yang dikubur dalam tiga peti kubur batu ini dan bagaimana ciri-ciri fisiknya selain perkiraan bahwa ketiga orang tersebut merupakan pemuka masyarakat.

Pada sudut lain, terdapat tanah lapang berbentuk lingkaran dengan diameter enam meter yang berbatasan dengan susunan batu sirap. Tempat bernama Batu Temu Gelang ini menjadi lokasi upacara dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di kawasan ini juga terdapat altar batu (punden berundak) atau bangunan berundak yang di bagian atasnya terdapat benda-benda megalitik atau makam seseorang yang dianggap tokoh dan dikeramatkan. Altar ini berfungsi sebagai tempat upacara pemujaan arwah nenek moyang.

Pada ketinggian tertentu situs ini, terlihat menhir atau batu tegak kasar yang dulu berfungsi sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan.

Ada pula dolmen (batu meja) yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batu hingga berbentuk meja. Fungsi dolmen adalah tempat pemujaan arwah nenek moyang sekaligus tempat peletakan sesaji. Ada pula batu dakon (lumpang batu) yang merupakan batu berlubang satu atau lebih. Batu ini berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan.

Dengan ragam keunikan bersejarah ini, tak heran jika situs purbakala Cipari mampu menarik minat masyarakat domestik dan internasional. Oleh karena itu, Anda tak boleh melewatkan kesempatan menyaksikan perkembangan sejarah Indonesia bersama putera-puteri tercinta.

Sumber foto: www.lintaskuningan.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Biodata Kang Agil

Arsip Blog

Wadya Balad